Kaidah-Kaidah dalam Memahami Penyimpangan Aqidah

Yuk Share

Pemateri : Syaikh Prof. Dr. Adil bin Muhammad As-Subai’iy
Penterjemah : Ustadz Imam Abu Abdillah

Bismillahirrahmanirahim..

Ketahuilah bahwasanya seorang muslim yang paling utama dan paling berharga di dalam kehidupan dunianya adalah agamanya dan aqidahnya. Sebagaimana difirmankan oleh Allah ﷻ :

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلٰمُ

“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam.” (QS. Ali ‘Imran [3] : 19)

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلٰمِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِى الْأَاخِرَةِ مِنَ الْخٰسِرِينَ

“Dan barang siapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 85)

Ketahuilah sesungguhnya pondasi dan dasar dari agama ini adalah aqidah yang shahihah (keyakinan yang benar) yang telah dibawa oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya. Sesungguhnya seorang yang dia itu berpaling dari apa yang diyakini oleh Rasulullah ﷺ dan sahabatnya maka sungguh dia akan terjatuh dalam kerugian, Apakah kerugian itu bersifat juz’i (bagian dari kerugian) ataukah kerugian itu bersifat kulli (menyeluruh). Adapun kerugian yang menyeluruh, seandainya dia itu menyeleweng dengan penyelewengan yang sempurna, dia menyeleweng dengan penyelewengan yang penuh. Sedangkan kerugian yang bersifat bagian, seandainya dia itu menyeleweng sedikit dari sunnah Rasulullah ﷺ.

Oleh karena itu rasulullah ﷺ telah menyebutkan bahwa barangsiapa yang dia berpegang teguh dengan sunnah nabi ﷺ, maka dia akan sukses dan akan selamat dari kesesatan.

Rasulullah ﷺ bersabda :

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. (Hadits Shahih Lighairihi, HR. Malik; al-Hakim, al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Dishahihkan oleh Syaikh Salim al-Hilali di dalam At Ta’zhim wal Minnah fil Intisharis Sunnah, hlm. 12-13).

Yang dipahami sebagai kesimpulan dari sabda Rasulullah ﷺ di atas bahwa siapa yang tidak berada di atas Al-Qur’an dan Sunnah nabi ﷺ, dia akan terjatuh ke dalam kesesatan, apakah kesesatan itu bersifat menyeluruh atau ataukah kesesatan itu bersifat juz’i, wal’iyadzubillah.

Oleh karena itu ketika aqidah menjadi sesuatu yang paling berharga terhadap seorang muslim, Allah ﷻ menceritakan di dalam firman-Nya yang terkait dengan Ashabul Kahfi, para pemuda yang mereka bersembunyi di dalam gua, di dalam ayat-Nya :

إِنَّهُمْ إِنْ يَظْهَرُوا عَلَيْكُمْ يَرْجُمُوكُمْ أَوْ يُعِيدُوكُمْ فِى مِلَّتِهِمْ وَلَنْ تُفْلِحُوٓا إِذًا أَبَدًا

“Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempari kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya.” (QS. Al-Kahf [18] : 20)

Coba perhatikan! Allah ﷻ tidak berfirman di dalam ayat diatas :

يَرْجُمُوكُمْ وَلَنْ تُفْلِحُوٓا إِذًا أَبَدًا

“Niscaya mereka akan melempari kamu dengan batu, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya.”

Tetapi Allah ﷻ berfirman :

يَرْجُمُوكُمْ أَوْ يُعِيدُوكُمْ فِى مِلَّتِهِمْ وَلَنْ تُفْلِحُوٓا إِذًا أَبَدًا

“Mereka akan melempari kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya.” (QS. Al-Kahf [18] : 20)

Oleh karena itu dari sini kita mengambil kesimpulan bahwa yang paling utama dan berharga yang dimiliki oleh seorang muslim adalah aqidahnya, prinsip-prinsip agamanya. Kita meminta kepada Allah ﷻ agar kita dipertemukan dengan-Nya di atas aqidah yang benar.

Apa itu sebab yang menjadikan seseorang jatuh ke dalam kelemahan prinsip dan aqidahnya?

Di sana tentunya ada sebab-sebab yang menjadikan seseorang itu akan lemah dan hancur aqidahnya.

Pertama dari sebab-sebab yang banyak menjadikan seseorang itu rusak dan hancur aqidahnya adalah kebodohan, ataukah rida dengan apa yang ada di atasnya dari ilmu dia yang sedikit. Sebagaimana Allah ﷻ berfirman di dalam ayat-Nya :

فَرِحُوا بِمَا عِنْدَهُمْ مِنَ الْعِلْمِ

“Mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka.” (QS. al-Ghâfir [40] : 83]

Ketahuilah bahwasanya kebodohan menjadikan manusia itu malas untuk bertanya, bahkan dia malas bertanya terhadap aqidahnya, dia tidak mau bertanya dan dia mencukupkan bahwa dia itu dilahirkan oleh ayah ibunya dalam keadaan muslim, ataukah dia itu menganggap kalau dirinya itu sebagai seorang muslim yang selamat manakala dia tinggal di dalam negeri muslim, lalu dia tidak bertanya tentang agamanya. Seandainya dia bertanya maka dia akan mengetahui. Namun, seandainya engkau melihat kebanyakan manusia, kaum muslimin, apakah di dalam pekerjaan-pekerjaan mereka, ataukah di dalam universitas-universitas yang mereka belajar di dalamnya, lalu kalian bertanya kepada mereka tentang aqidah, mereka akan mengatakan, “Ini sesuatu yang kita tidak perlu. Seandainya kita tidak tahu kita akan bertanya kepada para ulama. Selain itu, selama kita tidak perlu maka kita tidak perlu mempelajarinya.” Oleh karena itu Umar Bin Khaththab radhiallahu ‘anhu mengatakan :

إِنَّمَا تُنْقَضُ عُرَى الْإِسْلاَمِ عُرْوَةً عُرْوَةُ إِذَا نَشَأَ فِي الْإِسْلاَمِ مَنْ لاَ يَعْرِفُ الْجَاهِلِيَّةِ

Ikatan islam terlepas satu demi satu, karena muncul generasi dalam islam yang tidak kenal tradisi Jahiliyah. (Majmu’ Fatawa, 10/301)

Orang tidak bertanya tentang Islam, tidak bertanya tentang iman, ini tentunya akan membawa dia kepada kesesatan. Oleh karena itu, sebagai seorang muslim dia dituntut untuk bertanya di dalam perkara agama ini, harus dia bertanya,

“Apa aqidah saya? Apa aqidah saya terhadap Allah ﷻ? Terhadap malaikat-malaikat-nya? Terhadap rasul-rasul-Nya? Terhadap kitab-kitab yang Allah turunkan? Dan apa aqidahku terhadap iman terhadap hari akhir dan juga terhadap takdir baik dan buruk?” Seorang wajib untuk dia itu bertanya bagaimana dan apa yang harus dia yakini terhadap rukun-rukun Islam, rukun-rukun iman yang jumlahnya enam (6). Seandainya seorang muslim melakukan seperti itu, maka dia insya Allah akan selamat di dalam melalui kehidupan dunia ini dengan izin dari Allah ﷻ.

Oleh karena itu, siapa pun yang berada di saat ini dari kalian semuanya yang belum mengetahui tentang rukun-rukun iman yang jumlahnya enam ( 6), wajib bagi kalian untuk mempelajarinya, wajib bagi kalian untuk bertanya, dan ini adalah sebab yang pertama yang menjadikan seseorang terjatuh ke dalam kesesatan, yaitu kebodohan.

Dan saya akan meringkas dari apa yang akan saya sebutkan dari sebab-sebab jatuhnya seseorang dalam kelemahan aqidah dikarenakan waktu yang sempit.

Sebab yang kedua adalah mengambil dari ulama-ulama yang jelek, ulama-ulama yang sesat. sebagaimana Nabi ﷺ telah bersabda di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Amr bin al-‘Ash radhiyallahu anhuma :

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺍﻧْﺘِﺰَﺍﻋَﺎً ﻳَﻨْﺘَﺰِﻋُﻪُ ﻣﻦ ﺍﻟﻌِﺒﺎﺩِ ﻭﻟَﻜِﻦْ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺑِﻘَﺒْﺾِ ﺍﻟﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ ﺣﺘَّﻰ ﺇﺫﺍ ﻟَﻢْ ﻳُﺒْﻖِ ﻋَﺎﻟِﻢٌ ﺍﺗَّﺨَﺬَ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺭﺅﺳَﺎً ﺟُﻬَّﺎﻻً ، ﻓَﺴُﺌِﻠﻮﺍ ﻓَﺄَﻓْﺘَﻮْﺍ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻋِﻠْﻢٍ ﻓَﻀَﻠُّﻮﺍ ﻭَﺃَﺿَﻠُّﻮﺍ

“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menggangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya, akan tetapi Allah menanggkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. mereka sesat dan menyesatkan.“

Dari sini, kita sangat penting untuk berhati-hati dari bertanya kepada ulama yang mereka memiliki keyakinan bid’ah, ulama yang mereka jahil, ulama yang mereka itu tidak memiliki aqidah dan agama yang benar. Seseorang yang dia itu berada di atas jalan yang benar, ulama yang dia itu di atas jalan yang benar adalah mereka yang perlu untuk kita bertanya. Jangan bertanya kepada mereka ulama yang jelek, apakah melalui kitab-kitab mereka, ataukah kita mendengar kaset-kaset mereka ulama su’, ataukah kita melihat di situs-situs mereka, walaupun mereka adalah orang yang terlihat baik. Kenapa demikian? Karena keselamatan aqidah adalah sesuatu yang tidak bisa dibandingkan dengan apapun. Ambillah ilmu dari orang yang engkau anggap aman dan dia amanah dalam agamanya, jangan ambil dari selain mereka, walaupun mereka adalah orang yang baik secara dzhahir dan walaupun banyak sebab-sebab yang memudahkan kita mengambil ilmu dari mereka.

Pada hari ini, ada sebuah pertanyaan yang datang kepada saya melalui seorang yang ada di daerah Rusia atau sekitar Rusia. Dia bertanya tentang keinginan dia belajar bahasa Arab melalui sebuah buku, buku ini dikarang oleh seorang yang berbahaya aqidahnya, dia seorang yang ahli sastra tetapi dia berbahaya, seseorang yang menjadi pengekor hawa nafsu. Aku larang orang ini untuk belajar darinya dan aku suruh dia belajar bahasa Arab dari Al-Qur’an dan dari sunnah nabi ﷺ langsung, dan tidak ada metode belajar di dalam bahasa Arab yang lebih indah daripada belajar dari Al-Qur’an dan sunnah Nabi ﷺ. Mungkin engkau akan mengambil dari dia ilmu bahasa Arab, tetapi di sisi lain dia akan memasukkan kepada dirimu perkara perkara bid’ah, perkara-perkara yang menyeleweng, dan engkau tidak sadar akhirnya engkau jatuh dalam kesesatan, wal’iyadzubillah, dan ini adalah apa yang dikatakan sebagai ulama su’.

Lalu bagaimana seandainya orang yang akan kita ambil dari dia ilmu adalah orang yang memiliki ilmu, tetapi dia telah memasukkan di dalam keyakinannya perkara-perkara yang sesat? Tentunya ini adalah lebih berbahaya dibandingkan dengan mereka yang sama sekali jahil dalam perkara agama.

Kemudian sebab yang ketiga dari sebab jatuhnya seseorang di dalam kesesatan dan lemahnya aqidah adalah fanatisme terhadap nenek moyang ataukah terhadap kabilah atau kesukuan, ataukah terhadap sebuah daerah, dan ini dinamakan dengan al-qaumiyyat, fanatisme terhadap sebuah daerah, ini yang menghancurkan kebanyakan dari kalangan manusia. Seandainya dikatakan kepada mereka untuk mengikuti kebenaran, mereka akan menjawab dengan “Inilah yang telah dilakukan oleh nenek moyang kami.” Oleh karena itu Allah ﷻ berfirman di dalam ayat-Nya menceritakan keadaan orang yang seperti itu seperti itu :

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَآ أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَآ أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ ءَابَآءَنَآ ۗ أَوَلَوْ كَانَ ءَابَآؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah, mereka menjawab, (Tidak!) Kami mengikuti apa yang kami dapati pada nenek moyang kami (melakukannya). Padahal, nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun dan tidak mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah [2] : 170)

Di dalam ayat yang lain Allah juga mengatakan :

بَلْ قَالُوٓا إِنَّا وَجَدْنَآ ءَابَآءَنَا عَلٰىٓ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلٰىٓ ءَاثٰرِهِمْ مُّهْتَدُونَ

“Bahkan mereka berkata, Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan kami mendapat petunjuk untuk mengikuti jejak mereka.” (QS. Az-Zukhruf [43] : 22)

Ini yang mereka jawab, ini yang mereka katakan. Kebanyakan mereka terjatuh dalam kesesatan dengan sebab seperti ini, mereka meyakini sebuah keyakinan hanya karena itu hanya karena itu adalah sesuatu yang diyakini oleh nenek moyang nenek moyang mereka.

Seorang yang berada di daerah Malaysia sebagai contoh, dia akan mengatakan, “Saya di atas aqidah ini, saya tidak akan merubah keyakinan yang ada di daerah saya.” Kalau ada orang Saudi Arabia mereka akan mengatakan yang sama, “Saya juga tidak akan merubah, ini adalah keyakinan saya, negara saya, nenek moyang saya.” Juga seandainya ada orang yang dari daerah Mesir, dia juga akan mengatakan, “Ini adalah keyakinan saya, saya tidak akan merubahnya.” Ini adalah fanatisme daerah, ini adalah fanatisme golongan, fanatisme nenek moyang. Berlaku juga bagi orang yang ada di daerah Indonesia, dia akan menjawab, “Ini adalah aqidah kami, aqidah nenek moyang kami, aqidah turun-temurun, aqidah asy’ariyah, dan kita tidak akan merubah.” dan juga yang lainnya. persis seperti apa yang Allah firmankan di dalam ayat-Nya :

بَلْ قَالُوٓا إِنَّا وَجَدْنَآ ءَابَآءَنَا عَلٰىٓ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلٰىٓ ءَاثٰرِهِمْ مُّهْتَدُونَ

“Bahkan mereka berkata, Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan kami mendapat petunjuk untuk mengikuti jejak mereka.” (QS. Az-Zukhruf [43] : 22)

Di dalam ayat yang lain mereka menjawab :

فَمَا بَالُ الْقُرُونِ الْأُولٰى

“Jadi bagaimana keadaan umat-umat yang dahulu?” (QS. Ta-Ha [20] : 51)

Wahai saudaraku, seandainya seperti itu kenyataannya, kenapa engkau tidak mengikuti orang yang di atas mereka? Kenapa engkau tidak naik sedikit saja, naik sedikit saja kemudian kalian ikuti orang-orang yang terbaik dari generasi Islam ini, para sahabat nabi ﷺ yang mereka adalah orang dan generasi terbaik dalam sejarah Islam dengan kesepakatan seluruh para ulama. Kenapa engkau tidak naik sedikit saja, kemudian engkau menggali dan mempelajari aqidah yang diambil oleh empat imam madzhab, Malik bin Anas, begitu juga Abu Hanifah, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad. Ketahuilah, aqidah mereka adalah aqidah Salafiyah, aqidah yang bersumber dari generasi Salaf, mereka semua aqidahnya di atas aqidah yang benar, kecuali sesuatu yang sedikit yang itu berkaitan dengan masalah irja’ yang dinukil dari Al-Imam Abu Hanifah. Kenapa kita tidak mengembalikan aqidah kita kepada aqidah Imam kita yang besar, Imam Syafi’i rahimahullah ta’ala? Kenapa kita tidak beramal dengan amalan-amalan mereka dan kita justru mengambil generasi yang dekat dari kita dan jauh dari mereka? Ini adalah taklid buta, ini adalah fanatisme nenek moyang yang telah menghancurkan manusia sekian banyaknya. Ta’ashub, fanatisme terhadap kelompok, begitu juga taqlid buta adalah yang menghancurkan manusia dan menjatuhkan mereka di dalam kesesatan. Ketika dia diberikan sebuah kebenaran, dia mengatakan, “Saya memiliki Syaikh Fulan, saya mengikuti pendapat dia.” Ini adalah fanatisme terhadap kelompok.

Ada dua sebab, dan ini saya jadikan sebagai sebab yang ketiga dan sebab yang keempat. Yang pertama adalah taklid buta kepada seorang guru, kepada seseorang, mengikuti apa yang dia katakan. Sedangkan yang kedua adalah fanatisme terhadap nenek moyang.

Kalau kita melihat orang-orang Yahudi, orang orang majusi, orang-orang Hindu, Buddha, dan selain mereka dari orang-orang kafir, yang menjatuhkan mereka di dalam kesesatan adalah fanatisme terhadap nenek moyang mereka dan kakek-kakek mereka, dan juga fanatik buta dan taqlid buta terhadap nenek moyang mereka. Bahkan, diantara mereka ada yang berani mengatakan dengan tegasnya ketika datang kepada mereka kebenaran, “Saya berada di atas sebuah prinsip, ini yang harus saya pegang, saya tidak akan merubah prinsip ini.” Padahal prinsip itu bertentangan dengan aqidah yang benar.

Di antara ahlul bid’ah ada yang mengatakan, “Saya mengetahui ini adalah sunnah, ini adalah kebenaran, ini adalah haq. Tetapi saya tidak bisa merubah, saya tidak bisa mengikuti kebenaran tersebut, saya tidak bisa merubah kebenaran, merubah keyakinan dan prinsip yang saya miliki.” disebabkan karena dia telah terjatuh ke dalam fanatik buta dan fanatisme terhadap nenek moyang-nenek moyangnya.

Kemudian, sebab yang kelima adalah bersifat berlebihan terhadap orang-orang yang shalih. Ketahuilah bahwasanya sifat berlebih-lebihan kepada orang-orang yang shalih adalah pintu yang sangat berbahaya dan pintu yang sangat mengerikan di dalam kesesatan. Ini adalah sebab yang paling banyak menjatuhkan manusia ke dalam kesesatan. Oleh karena itu, kalau kita melihat kaumnya Nabi Nuh ‘alaihissalam, di antara mereka ada orang-orang yang baik, mereka menjalankan syariat Allah ﷻ dengan baik, mereka ulama yang besar, dan mereka adalah orang-orang adalah orang-orang yang shalih. Ketika mereka itu wafat, orang yang ada di zamannya itu mengatakan, “Bagaimana kalau kita buat gambar, sehingga kalau kita melihat gambar mereka, akan tergerak hati kita untuk beribadah seperti ibadahnya mereka.” Kemudian setelah itu, muncullah generasi setelahnya, generasi setelahnya, generasi setelahnya, dan mereka melupakan tujuan utama generasi pertama. Sehingga generasi terakhir mengatakan, “Mereka itu, gambar-gambar itu adalah perantara-perantara kita di dalam berdoa kepada Allah ﷻ, jadikan mereka itu sebagai perantara ketika kita meminta kepada Allah ﷻ.” Terjatuhlah mereka di dalam ghuluw, dalam sifat yang ekstrem dan berlebih-lebihan kepada guru-guru mereka, dan jatuhlah mereka ke dalam syirik, bahkan syirik yang besar, wal’iyadzubillah.

Oleh karenanya kita mendapatkan kebanyakan orang-orang yang dinamakan dengan orang-orang Shufi, mereka mengatakan terhadap guru-guru dan ulama-ulama mereka sesuatu yang aneh, bahkan ada diantara guru-guru mereka yang melakukan perbuatan maksiat, bahkan perbuatan kotor, dia masih membela gurunya dan dia mengatakan, “Sungguh, mataku telah berdusta” ketika dia melihat perbuatan gurunya melakukan perbuatan fahisyah. Mereka tabarruk, mereka mengalap berkah terhadap ludah-ludah gurunya dan keringat-keringat gurunya, mereka juga mengambil berkah dengan bekas air cuci kaki guru-guru mereka, bahkan mereka cuci dengan itu kepala kepala mereka, mereka jadikan diri-diri mereka terhadap guru-guru mereka seperti budak atau bahkan lebih jelek daripada budak. Ini yang dinamakan dengan ekstrem (berlebih-lebihan) terhadap orang-orang shalih, ini yang menyeret seseorang jatuh ke dalam kesesatan. Oleh karena itu, ketika seorang mengingatkan dia di dalam kebaikan, dia akan mengatakan, “Guru saya itu adalah guru yang tidak mungkin salah, guru saya itu lebih berilmu dari aku dan kamu. Guru saya adalah guru yang tidak pernah salah.” Begitulah setan membawa diri mereka untuk berlebih-lebihan kepada guru-guru mereka dan menempatkan keadaan guru-guru mereka seperti seorang yang tidak pernah salah, mereka letakkan seperti kedudukan Allah dan kedudukan rasul-Nya ﷺ baik di dalam terjaganya mereka dari kesalahan atau yang semisalnya, dan ini adalah sesuatu yang berbahaya.

Adapun sebab yang keenam dari sebab-sebab yang menjatuhkan seseorang ke dalam kekeliruan di dalam aqidah atau lemahnya dia di dalam aqidah, dan ini adalah sebab yang paling penting dan aku tutup dengannya majelis ini dengan sebab yang keenam ini, adalah yang dinamakan dengan media sosial. Ini secara tidak disadari adalah sebab yang menjatuhkan seseorang ke dalam kekeliruan aqidah dan lemahnya dia di dalam beragama, dan ini banyak menyerang kepada generasi pemuda atau di bawah mereka dari anak-anak kecil. Generasi Pemuda kurang lebih umur mereka 30 tahun atau dibawah mereka, atau di umur 7 tahun dari kalangan anak-anak sampai umur 40 tahun, mereka rata-rata terkena dengan sebab yang keenam ini.

Perlu diketahui bahwa generasi yang kita sebutkan di atas adalah orang yang paling banyak terkena sebab jatuhnya mereka di dalam kekeliruan aqidah dan lemahnya beragama, yang dinamakan dengan media sosial, apakah itu Facebook, Twitter, WhatsApp, Telegram, dan lain sebagainya.

Mengapa ini menjadi sebab jatuhnya seseorang dalam kekeliruan aqidah? Karena media sosial yang disebutkan di atas rata-rata mereka menyebarkan pemikiran pemikiran dan ideologi-ideologi yang berselisih dan tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan sunnah nabi ﷺ dengan pemahaman Salafus Shalih.

Media sosial media sosial di atas menjadikan orang-orang baik dari kalangan manusia ini menjadi orang-orang yang rusak, menjadi orang-orang yang lemah aqidahnya.

Sebagai contoh, misalnya ada seorang alim atau seorang Syekh Fulan yang dia anggap baik mengatakan sebuah ucapan, padahal ucapan tersebut adalah ucapan yang keliru, lalu dia langsung menyebarkan di grup grup WhatsApp ataukah di media-media sosial yang lain, yang ini menyebarkan di media sosial yang ini, yang ini dan yang itu, sehingga dalam kurun waktu yang sangat singkat ucapan atau tulisan tersebut telah menyebar ke jutaan, milyaran orang dalam keadaan itu tidak benar, dalam keadaan itu adalah dusta terhadap nama seorang alim atau yang lainnya. Oleh karena itu sebagai seorang muslim dia harus mengetahui kenyataan hal demikian, dan yang lebih daripada itu perlu diketahui bahwa musuh-musuh islam itu mereka menginginkan umat Islam terjebak dengan adanya media-media sosial untuk menyebarkan pemikiran-pemikiran yang rusak. ini adalah sesuatu yang menjadi jebakan musuh-musuh Islam di dalam menyebarkan keyakinan-keyakinan yang rusak dan ideologi-ideologi yang keliru.

Beberapa hari yang lalu seseorang kerabat mengirimkan kepadaku sebuah tulisan singkat yang isinya adalah sesuatu yang dinukil dari seorang ulama. Ini menurutku adalah sesuatu hal yang aneh karena itu disandarkan kepada ulama tersebut. Namun, beberapa saat setelah itu aku cek berita tersebut, rupanya itu adalah kedustaan, itu adalah hal yang keliru, kedustaan terhadap nama seorang alim tersebut.

Bagaimana mungkin kita percaya terhadap sembarangan orang. mereka akan berdusta dengan nama guru-guru mereka, ataukah mereka akan berdusta atas nama ulama-ulama Islam dengan kedustaan yang nyata. Toh mereka juga telah berdusta sebelumnya atas nama Allah, mereka juga berdusta atas nama Rasulullah ﷺ, mereka berdusta atas nama para sahabat, mereka telah berdusta atas nama para ulama. Oleh karena itu, seorang muslim dia harus waspada dengan media sosial dan pesan-pesan berantai tersebut. Ini seandainya seseorang tidak waspada, dia akan terjatuh ke dalam bahaya yang mengerikan.

Dan yang penting disini adalah seseorang tidak boleh menjadikan media sosial ini sebagai konsep dia dalam menuntut ilmu, tidak boleh seseorang menjadikan sandaran utama dia dalam menuntut ilmu itu dari media sosial, yang menjadi konsep utama adalah mengambil ilmu dari para ulama, di atas Al-Qur’an dan Sunnah, bukan dengan media sosial. Benar, seorang bisa mengambil faedah dari apa yang tersebar dari faedah-faedah agama yang ada di media sosial, tetapi untuk dijadikan konsep dalam menuntut ilmu, ini adalah kekeliruan. Ada pelajaran pelajaran yang bagus dari para ulama-ulama Islam yang disebar di situs-situs mereka dan website-website mereka, ini diambil faedah darinya. Tetapi seseorang menjadikan media sosial ini sebagai ajang untuk mengirimkan apa yang sampai kepada dia tanpa mengecek, tanpa melihat kebenaran dari pesan tersebut, ini adalah perkara yang sangat keliru dan sangat berbahaya. Lebih parahnya lagi, orang menjadikan media sosial itu sebagai ajang untuk menyebarkan ilmu-ilmu ahlul bid’ah, pengekor pengekor hawa nafsu. Mereka jadikan media sosial sebagai ajang untuk menyebarkan kebid’ahan-kebid’ahan mereka, penyimpangan-penyimpangan aqidah mereka, dan ini adalah perkara yang lebih berbahaya lagi.

Oleh karena itu, saya mengajak kepada seluruh saudara-saudara saya dari tempat ini, baik saudara-saudara saya yang ada di Aceh, atau di negeri-negeri lain, atau kota-kota lain dari negeri Indonesia ini agar mereka itu berusaha untuk membuat website-website atau media-media sosial yang diasuh oleh orang-orang yang mereka terpercaya di dalam ilmunya. Sehingga seandainya ada faedah yang baik, maka akan disebar melalui grup-grup yang ada dan media-media sosial yang ada, sehingga orang yang membacanya berada di atas keyakinan bahwa ini adalah sesuatu yang benar, ini sesuatu yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah. Semampu mereka dalam melakukan hal tersebut. Namun kalau kita bersandar kepada mayoritas media sosial yang ada di zaman sekarang ini, rata-rata mereka menyebarkan pesan pesan berantai yang bersumber dari keyakinan keyakinan yang keliru dan pemahaman pemahaman yang salah. Ini semuanya adalah sesuatu yang menjadikan seseorang itu berada di atas keselamatan di dalam agamanya seandainya mereka waspada dan berhati-hati dan hanya menyebarkan sesuatu yang bermanfaat dan diketahui dari seorang alim yang terpercaya ilmunya.

Demikian, dan kami meminta kepada Allah ﷻ agar Allah memberikan kepada kita manfaat di dalam ilmu yang kita dapatkan dan menjadikan ilmu yang kita dapatkan sebagai ilmu yang bermanfaat untuk saya dan kita semuanya, dan dengan ini aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan bahwasanya Nabi Muhammad ﷺ adalah utusan Allah ﷻ.

Artikel lain:

Bantu Dakwah Sunnah di Serambi Mekkah. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khairan katsiran.

Yuk Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Yuk Share
Yuk Share