Mon. May 25th, 2026

Dorongan Persatuan dan Dibencinya Perpecahan

4 min read
Dorongan Persatuan dan Dibencinya Perpecahan: Berikut beberapa faidah dari daurah bersama Syaikh Abdul Hadi al Umairi  (Jum'at, 7 Juli 2018.) Fawaaid: ● Pujian kepada Allah, shalawat dan salam kepada Rasulullah. ● Tidak ada syukur kepada Allah siapa yg tidak bersyukur kepada manusia.

Berikut beberapa faidah dari daurah bersama Syaikh Abdul Hadi al Umairi  (Jum’at, 7 Juli 2018.)

Fawaaid:

● Pujian kepada Allah, shalawat dan salam kepada Rasulullah.

● Tidak ada syukur kepada Allah siapa yg tidak bersyukur kepada manusia.

لا يشكر الله من لا يشكر الناس

● Peradaban sebelum Islam laksana kehidupan binatang, kezaliman dimana-mana, yang kuat memangsa yang lemah, pemilik kedudukan mencuri harta manusia tidak dihukum namun sebaliknya yan lemah akan dihukum, tidak ada penjagaan terhadap hak-hak manusia.

Namun, setelah datangnya Islam dimana Allah menyempurnakan agamanya sebagai petunjuk bagi seluruh manusia sebagaimana firman Allah,

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.”

● Ketika terjadi peperangan di negeri Arab dahulu (sebelum Islam) yg disebabkan hal-hal sepele, manusia penuh ketakutan. Pertikaian antar kabilah yang sangat panjang, terhenti setelah datangnya Islam. Agama yang mengajarkan kelembutan dan mempersatukan manusia dalam ukhuwah.

● Islam datang dengan pondasi yang jelas bagi kehidupan umat manusia, menjelaskan haq dan batil, yang ini merupakan keadilan dari Allah. Allah tidak melihat kepada rupa dan jasad, tetapi Allah melihat hati manusia.

Islam tidak membedakan Arab dan ajm, pembedanya adalah apa yg ada dalam dada-dada mereka.

(يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ)

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” [Surat Al-Hujurat 13]

Qabilah/keturunan tidak ada arti sama sekali tanpa iman kepada Allah.

2 orang dari manusia, satunya pembesar dari kaumnya yaitu Abu Lahab, satunya lagi Bilal yg merupakan budak Habsyi. Keduanya memiliki perbedaan yg sangat besar, Abu Lahab disebutkan Allah dengan celaan dan ancaman dalam Al-Qur’an. Adapun Bilal, Rasulullah kabarkan sebagai ahli jannah “ya Bilal sungguh aku mendengar terompahmu di surga” dalam keadaan beliau masih hidup di muka bumi. Dimana salah satu amalan beliau adalah tidaklah beliau berwudhu kecuali beliau menunaikan shalat dua rakaat.

● Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Islam mendidik dan menjinakkan hati-hati kaum muslimin dan menjadikan mereka bersaudara. Sebagaimana Rasulullah bersabda bahwa muslim adalah saudara bagi muslim lainnya.

Persaudaraan tidak dibatasi oleh kabilah dan bagian keduniaan. Persaudaraan yang dibangun di atas keimanan (agama) lebih kokoh dari persaudaraan yang dibangun di atas perkara dunia.

Persaudaraan seiman inilah yang mengikat para sahabat Rasulullah dalam ukhuwah yang mereka praktekkan dalam kehidupan mereka.

Ketika Rasulullah mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar, Abdurrahman bin Auf dengan Ibn Rabi’, ketika itu pula Ibn Rabi’ menawarkan separuh hartanya dan istrinya. Begitulah ukhuwah para sahabat yang menjadi contoh sempurna bagi umat setelah mereka.

Seperti itulah kemuliaan Islam yang menempatkan ukhuwah pada tempat utama. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Sehingga wajib bagi muslim menunaikan hak-hak saudara nya, Allah mengancam yang menyia-nyiakan hak ukhuwah.

Rasulullah bersabda “tidak halal bagi muslim menjauhi saudaranya lebih 3 hari, barangsiapa yg menjauhi saudaranya lebih 3 hari lalu ia mati maka Allah mengancamnya dengan neraka.” (Hadits Abu Dawud, disahihkan Albani.)

Rasulullah mengancam “barangsiapa menghajr saudaranya setahun maka ia bagaikan menumpahkan darah saudaranya.”

Persaudaraan hancur karena urusan dunia, perniagaan dan lainnya hingga tidak saling sapa dan memberi salam satu dengan lainnya. Terkadang perpecahan terjadi antara anak dengan orangtuanya, masih berhubungan sedarah maka dosanya lebih besar dan sangat tidak layak untuk diputuskan hubungan dengan mereka, apalagi hanya dipicu oleh urusan dunia.

Diantara dampak buruk pemutusan hubungan persaudaraan adalah Allah menahan keutamaan amalan-amalan yang dilakukan, bahkan ancaman Allah dengan neraka.

Allah mengharamkan darah, harta dan kehormatan seorang muslim oleh muslim lainnya.

● Syaikh mengingatkan, sekiranya tidak sanggup berbuat baik terhadap saudara maka janganlah menyakiti saudaranya. Sangat besar akibatnya bila menyakiti saudaranya, dan Allah mengancam dalam ayatnya:

(وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا)

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh, mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.”

Wahai muslimah, waspadalah kalian, tunaikan hak-hak saudara kalian. Suatu ketika sahabat mengabarkan kepada Rasulullah seorang wanita yang menjaga shalat malam, melakukan puasa sunnah dan secara lahir ia wanita baik, namun dikatakan sahabat akan tetapi ia mengganggu tetangganya, maka Rasulullah mengabarkan ia dalam neraka.

Sebaliknya Rasulullah mengabarkan wanita lainnya yang hanya mengerjakan yang wajib namun tidak mau sama sekali menyakiti saudaranya, Rasulullah mengabarkan ia akan masuk jannah.

Bahkan dalam hadits lainnya seorang wanita yg berbuat zalim terhadap seekor kucing, Rasulullah kabarkan masuk neraka. Sebaliknya seorang wanita pezina yg berbuat baik kepada seekor anjing, Allah masukkan dalam jannah. Karenanya, saudara kalian yang lebih mulia daripada anjing atau kucing lebih berhak dijaga hak-haknya.

● Syaikh menambahkan, mengingatkan janganlah menganggap enteng persaudaraan walau hanya dengan senyum. Rasulullah mengatakan senyuman kamu bagi saudaramu adalah sedekah.

Beliau mempersaksikan bahwa orang Indonesia memiliki kebiasaan yang tidak didapatkan di negeri-negeri lainnya, yaitu tersenyum kepada saudaranya, bahkan kepada yg belum dikenalnya. Begitulah pengalaman Syaikh di tempat-tempat mulai dari bandara, toko dsb.

Karena sebagian kita tidak mampu bersedekah dengan harta, maka senyum adalah sedekah oleh kaya maupun yg miskin.

Selesai.

 

(Ditulis dan Diringkas oleh: Tim Syiar Tauhid Aceh)


Baca juga faidah ilmiah lainnya:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *