Mengendalikan Diri ketika Marah

Share Yuk!!!

Ada sebuah hadis dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu,

( ليس الشديد بالصرعة ، إنما الشديد الذي يملك نفسه عند الغضب )
رواه أحمد 2/236 والحديث متفق عليه

“Bukan yang dikatakan kuat itu (menang) dalam perkelahian. Sesungguhnya orang kuat itu yang dapat mengendalikan diri ketika marah.” (HR. Ahmad, 2/236, muttafaq’alaihi)

Hadits ini menunjukkan, terkadang seseorang tidak mampu menguasai diri ketika sedang marah. Dalam hal ini, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyebutkan, “Bukanlah orang yang kuat yang dia dengan serta merta mengambil sebuah tindakan ketika tertimpa padanya marah. Akan tetapi orang yang kuat tersebut adalah yang mampu mengendalikan dirinya manakala terjadi padanya kemarahan. Inilah orang kuat yang sebenarnya.”

Marah, merupakan bara api syaithan yang dilemparkan kepada manusia. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah,

جمرة يلقيها الشيطان في قلب الإنسان

“Bara api yang dilemparkan oleh syaithan ke dalam hati manusia.”
Oleh sebab itu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengajarkan, ketika marah, apabila sedang dalam keadaan berdiri, hendaklah duduk. Jika sudah duduk namun rasa marah itu belum juga hilang, maka diperintahkan untuk ber-wudhu. Tentunya ini adalah suatu perkara yang sangat-sangat sulit untuk dilakukan oleh seseorang. Terlebih bagi seseorang yang memiliki kekuatan, dan dia berhadapan dengan orang yang lemah, baik fisiknya ataupun kedudukannya.

Disebutkan oleh para ulama, terkadang seseorang yang marah, ada orang yang marah sampai tidak sadar apa yang dia keluarkan daripada ucapan-ucapannya. Sehingga para ulama mengatakan, bahwasanya orang yang mentalak atau menceraikan istrinya dalam keadaan marah–yang memuncak–maka tidak dianggap jatuhnya talak.

Syeikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu ta’ala menyebutkan empat faedah berkaitan dengan hadis ini. Yang pertama, seseorang memiliki sifat yang terpuji manakala dia mampu menahan diri ketika tertimpa padanya marah.

Dalam hadits yang lain disebutkan,

المؤمن القوي احب الى الله من المؤمن الضعيف

“Mukmin yang kuat itu lebih dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala dibandingkan dengan seorang mukmin yang lemah.”

Ini menunjukkan bahwasanya sifat kuat tersebut merupakan sifat yang terpuji di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Dan dikatakan orang yang kuat, yang mampu menahan dirinya ketika dia marah.

Yang kedua, Rasulullah shallallahu alaihi wasalam memberikan motivasi kepada seseorang untuk menahan dirinya tatkala dia memang wajib (menahan amarah), apalagi manakala akibat dari kemarahannya tersebut
akan menimbulkan dampak buruk baginya.

Ketiga, seseorang mampu menahan dirinya ketika dia marah, itu lebih berat daripada melepaskan kemarahan. Maka tidak diragukan lagi menahan amarah itu lebih berat dibandingkan melepas amarah.

Keempat, memberikan faedah kepada kita mengenai indahnya bimbingan yang datang dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau menjelaskan kepada manusia tentang hukum atau keadaan sesuatu yang dengan hal tersebut mampu dijangkau dengan panca indera, artinya, mampu untuk kita memahaminya.

Diringkas oleh Tim Syiar Tauhid Aceh dari Faidah Kajian Ustad Adam Abu Rifqi)


Bantu Dakwah Melalui Radio Syiar Tauhid Aceh

Donasi: BNI Syariah (Kode 009)
No. Rekening 49.71.80.00.04
(An. Yayasan Syiar Tauhid Banda Aceh)
Konfirmasi: 082360005322

Lihat Faedah Ilmiah Sebelumnya:

Share Yuk!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares