Tolok Ukur Kebenaran

Share Yuk!!!

Berbicara mengenai “al-wasithiyah fiddin (pertengahan dalam beragama)” dan siapa yang menjadi rujukan di dalam ad-din ini. Sudah menjadi kaidah yang maklum di sisi ahlussunnah, “Kebenaran itu tidaklah diikat kepada seseorang–siapa pun dia, kecuali Rasulullah–”(الحق لا يؤلق الرجل). Tetapi ketika al-haq itu ada pada seseorang, di situlah kita katakan al-haq. “Kapan
seseorang itu berjalan di atas kebenaran maka itulah kebenaran” (الحق لا يؤلق
الرجل).

Beranjak dari kaidah tersebut, maka siapa pun mereka yang berjalan di atas yang bukan jalan kebenaran, yang menyelisihi nas Alquran dan Sunah, kita katakan, “Kamu salah, bagaimanapun hebatnya kamu”.

Kita tidak mengaitkan kebenaran kepada orang yang hidup. Apa yang disebut oleh Abdullah Ibnu Mas’ud radhiallahu ta’ala ‘anhu, “Kalau seandainya engkau ingin mengambil jalan hidup di dalam agamamu, maka ambillah jalan hidup dari orang-orang yang telah meninggal karena yang namanya orang hidup itu mereka tidaklah aman dari yang namanya fitnah.”

Jangankan seseorang di zaman ini, orang yang hidup di zaman tabi’in, tabi’ut tabi’in, bagaimanapun alim dan hebatnya orang tersebut, tidaklah kita menjadikannya sebagai barometer kebenaran. Kalau kita menggantungkan kebenaran kepada orang selain Rasulullah, maka yang namanya kebenaran akan berubah-ubah sesuai dengan kondisi orang tersebut. Yang namanya manusia, terkadang imannya turun, terkadang naik, maka tidak bisa dijadikan sebagai sandaran sebuah kebenaran, siapapun dia. Walaupun (seandainya) datang Imam Ahmad ke negeri kita, tidaklah sesuatu yang beliau lakukan kemudian kita jadikan sebagai standar kebenaran.

Sehingga ahlussunnah, as-salafiyun thalabatul ‘ilm, tidak perlu bingung kalau ada orang yang ‘mengkritisi’ seperti ini, “Katanya tidak boleh bersalaman dengan perempuan yang bukan mahram. Kalian ini terlalu kaku, ekstrim, kuno. Buktinya Raja Salman saja bersalaman dengan perempuan yang bukan mahramnya.

Kita katakan, “Kalau Abu Bakar as-Siddiq radhiallahu ta’ala ‘anhu (misalkan) bersalaman dengan perempuan yang bukan mahram beliau, maka kita katakan salah.”

Karena Nabi Muhammad menyebutkan,

لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ

“Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya (bukan mahramnya)” (HR. ar-Ruyani dalam musnad-nya, 2/227,di-shahih-kan oleh syekh Albani dalam Silsilah ash-Shahihah, 1/447)

Disebutkan di dalam sebuah ayat,


وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ وَإِنْ كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil (pertengahan) dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” (QS. al-Baqarah [2]: 143)

Imam at-Thabari berkata,

“Dan saya memandang, Allah subhanahu wa taala menyebutkan di dalam ayat tersebut sifatnya mukminin (pengikut Rasulullah shallallahu alaihi wasallam) adalah pertengahan.

Mengapa mereka dikatakan sebagai umat pertengahan? Hal tersebut dikarenakan mereka berada di tengah-tengah dalam urusan agamanya. Tidak mereka berlebih-lebihan (ghuluw) sebagaimana ghuluw-nya orang-orang Nashrani yang sampai-sampai mereka mengangkat Isa bin Maryam sebagai anaknya Allah. Sampai-sampai mereka melakukan ibadah dengan merahibkan diri (tidak menikah, menjauhi dunia, dan seterusnya) sebagai bentuk peribadatan kepada Allah subhanahu wa taala. Atau mereka (muslimin) tidak sebagaimana kelompok Yahudi yang mereka bermudah-mudahan (dalam urusan agamanya), mengubah kitab Allah, membunuh Nabi-Nabi, mendustai dan mengkufuri Allah, tetapi umatnya Rasul shallallahu alaihi wasallam adalah umat yang berada di tengah, maka dengan itulah Allah mensifati mereka karena Allah menyukai dan mencintai al-wasithiyah.”

Kemudian disebutkan oleh Imam Ibnul Qayyim, “Agama Allah berada di
tengah-tengah di antara orang-orang yang ghuluw dan orang-orang yang bermudah-mudahan. Dan tidaklah mereka digolongkan kepada kelompok
yang ghuluw, bahkan Allah telah menjadikan mereka adalah umat yang
tengah, dan mereka adalah orang-orang yang dipilih oleh Allah dikarenakan keadilan mereka di antara dua kelompok yang tercela (Yahudi dan Nashrani).”

Di antara contoh bagaimana al-wasithiyah dalam Islam ialah dalam persoalan zakat. Zakat tidak diambil dari harta yang paling bagus dan tidak pula dari yang paling jelek. Yang diambil adalah yang di tengah-tengah.

Sebagaimana hadits yang datang dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari Mu’adz bin Jabal radhiallahu ta’ala ‘anhu,


أَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ فَإِنْ هُمْ
طَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ فَإِيَّاكَ وَكَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ

“Beritahukanlah bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka untuk mengeluarkan zakat harta mereka, diambil dari orang-orang kaya mereka dan diberikan kepada orang-orang yang miskin dari mereka. Jika mereka taat untuk itu, maka hati-hatilah engkau dari mengambil harta milik mereka yang paling baik”. (HR. Bukhari)

Al-Imam Nawawi menerangkan bahwa haramnya bagi mereka yang
mengumpulkan zakat untuk mengambil harta yang terbaik yang dimiliki oleh pemberi zakat dalam penunaian zakat tersebut. Bahkan diambil yang tengah dari zakat tersebut dan diharamkan bagi pemilik uang untuk mengeluarkan harta yang paling jelek yang dia punya.

Meskipun begitu, seandainya si pemilik harta mengeluarkan harta dengan kesadarannya sendiri, diambil yang paling baik maka ini tidak masalah. Namun orang yang mengumpulkan zakat tadi tidak boleh bagi dia mengumpulkan harta yang paling bagus yang dimiliki oleh si pemilik harta
tersebut.

Dalam masalah akidah, muamalah, atau dalam masalah akhlak, Islam selalu mengajarkan di dalamnya al-wasithiyah. Dan intinya yang dijadikan sebagai sandaran al-wasithiyah adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

*Berkaitan dengan permasalahan zakat, perlu dicermati perihal wakil zakat atau amil zakat. Amil zakat yang dimaksudkan oleh Allah adalah mereka yang memang bertugas untuk memberikan zakat yang dipilih oleh
pemerintahan muslimin. Karena urusan zakat dikembalikan kepada
pemerintah.

Perseorangan, misalkan seseorang yang diamanahkan untuk memberikan
zakatnya. Maka itu tidak disebut sebagai amil zakat. Tetapi dianggap ebagai
orang yang diwakilkan untuk memberikan zakat. Maka kedudukan orang
yang demikian itu tidak bisa dianggap sebagai amil zakat yang boleh
mengambil satu bagian dari zakat

(Diringkas oleh tim Syiar Tauhid Aceh dari Faidah Kajian Ustad Harist Abu Naufal)


Bantu Dakwah Melalui Radio Syiar Tauhid Aceh

Donasi: BNI Syariah (Kode 009)
No. Rekening 49.71.80.00.04
(An. Yayasan Syiar Tauhid Banda Aceh)
Konfirmasi: 082360005322

Lihat Faedah Ilmiah Sebelumnya:

Share Yuk!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares