Sat. Dec 7th, 2019

Ngaku Cinta Nabi Bukanlah dari Perayaan Ulang Tahunnya

4 min read
Bagi setiap orang yang mengaku cinta kepada nabinya, maka buktikan dengan ketaatan. Bagaimana kita katakan kita cinta kepada nabi tetapi perintah beliau kita abaikan,
Bagi setiap orang yang mengaku cinta kepada nabinya, maka buktikan dengan ketaatan. Bagaimana kita katakan kita cinta kepada nabi tetapi perintah beliau kita abaikan,

Bagi setiap orang yang mengaku cinta kepada nabinya, maka buktikan dengan ketaatan. Bagaimana kita katakan kita cinta kepada nabi tetapi perintah beliau kita abaikan,

Sumber gambar: Pixabay


Pemateri : Ustadz Farhan Abu Furaihan

Bagi setiap orang yang mengaku cinta kepada nabinya, maka buktikan dengan ketaatan. Bagaimana kita katakan kita cinta kepada nabi tetapi perintah beliau kita abaikan, larangan beliau malah kita lakukan, lantas mengaku cinta kepada nabi hanya karena merayakan hari kelahiran beliau.

Sekarang secara logika, ada seorang anak, dia menyatakan, “Saya cukup cinta kepada ibu bapak saya, saya sangat sangat mengidolakan kedua orang tua saya.” Apa buktinya? “Saya selalu merayakan ulang tahun mereka.” Tapi perintah Bapak Ibunya tidak dia laksanakan, larangan keduanya tidak dia indahkan. Apakah anak yang seperti ini dikatakan telah mencintai kedua orang tuanya hanya sekedar dia telah merayakan hari kelahiran orang tuanya sekalipun dia tidak menjalankan perintah mereka dan meninggalkan larangan mereka? Ini secara logika, tentu si anak tersebut tidak dikatakan cinta terhadap kedua orang tuanya, buktinya kedua orang tuanya menyuruh dia tidak mau, perintah orang tuanya tidak ia indahkan, larangan orang tuanya malah dia langgar. Kemudian setahun sekali dia merayakan ulang tahun Bapaknya atau Ibunya, apakah itu cukup sebagai bukti bahwa dia cinta kepada orang tuanya? Sungguh tidak cukup. Lalu bagaimana dengan Nabi ﷺ? Beliau memerintahkan umatnya yang laki-laki untuk shalat berjamaah lima waktu dan tidak boleh meninggalkannya kecuali dengan udzur yang syar’i. Di medan perang nabi melaksanakan shalat berjamaah.

فَإِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالًا أَوْ رُكْبَانًا

“Jika kamu takut (ada bahaya), sholatlah sambil berjalan kaki atau berkendaraan.” (QS. Al-Baqarah [2] : 239)

Dan datang cara shalat di medan tempur dari Nabi ﷺ dan beliau praktekkan shalat jamaah di medan tempur, di dalam safar beliau juga melakukan jamaah, dan nabi menyatakan :

إِنَّ أَثْقَلَ صَلاَةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلاَةُ الْعِشَاءِ وَصَلاَةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلاَةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلاً فَيُصَلِّىَ بِالنَّاسِ ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِى بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لاَ يَشْهَدُونَ الصَّلاَةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ

“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya dan shalat Shubuh. Seandainya mereka tahu keutamaan yang ada dalam kedua shalat tersebut tentu mereka akan mendatanginya walau dengan merangkak. Sungguh aku bertekad untuk menyuruh orang melaksanakan shalat. Lalu shalat ditegakkan dan aku suruh ada yang mengimami orang-orang kala itu. Aku sendiri akan pergi bersama beberapa orang untuk membawa seikat kayu untuk membakar rumah orang yang tidak menghadiri shalat Jama’ah.” (HR. Bukhari no. 657 dan Muslim no. 651, dari Abu Hurairah).

Jangan marah sama saya, ini hadits nabi. Nabi adalah hamba Allah yang paling santun, yang paling lembut, yang paling hikmah dakwahnya. Tetapi untuk orang yang bermalas-malasan untuk shalat isya dan subuh, nabi vonis mereka munafik. Nabi yang memvonis, siapa yang berani marah? Haditsnya Bukhari Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. Kalau tidak mau dikatakan munafik, jaga sholat isya dan subuh berjamaah! Kalau tidak, nabi yang memvonis kita sebagai munafik. Siapa yang berani membantah dan siapa yang berani melawan Nabi ﷺ?

إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ، وَصَلَاةُ الْفَجْرِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا” رواه البخاري ومسلم عن أبي هريرة

“Shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat isya dan shalat subuh. Andaikata mereka mengetahui pahala yang ada pada kedua shalat itu pastilah mereka melaksanakannya meskipun dengan merangkak”. (HR Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah)
Dan nabi pernah berencana untuk mencari dan membakar rumah-rumah yang di dalamnya ada lelaki-lelaki yang tidak hadir shalat jamaah tanpa udzur syar’i, tetapi tidak jadi nabi lakukan karena didalam nya ada wanita-wanita dan yang lainnya yang tidak berkewajiban untuk shalat berjamaah.

Sahabat Abdullah bin Mas’ud dalam Shahih Muslim dan juga dicantumkan oleh Imam Nawawi dalam kitab Riyadush Shalihin, beliau menyatakan sahabat Abdullah bin Mas’ud, ulama tafsirnya sahabat nabi, beliau menegaskan :

وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلاَّ مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ

“Sungguh di masa nabi kami melihat bahwa orang yang meninggalkan shalat jama’ah hanyalah orang munafik, di mana ia adalah munafik tulen.” (HR. Muslim no. 654).

Siapa yang menyatakan? Abdullah bin Mas’ud, ulama tafsir para sahabat nabi. dicantumkan oleh Imam Nawawi, ulama besar Madzhab Syafi’i dalam kitabnya Riyadhush Shalihin.

Sahabat lain seperti Abdullah bin Umar menyatakan :

كُنَّا إِذَا فَقَدْنَا الإِنْسَانَ فِي صَلاَةِ العِشَاءِ الآخِرَةِ وَالصُّبْحِ أَسَأْنَا بِهِ الظَّنَّ

“Jika kami tidak melihat seseorang dalam shalat ‘Isya’ dan shalat Shubuh, maka kami mudah untuk suuzhon (berprasangka jelek) padanya” (HR. Ibnu Khuzaimah 2: 370 dan Al Hakim 1: 211, dengan sanad yang shahih sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab. Lihat Minhatul ‘Allam, 3: 365)

Ini sekian ayat dan hadits. Nabi memerintahkan umatnya untuk shalat berjamaah. Kita ketika adzan masih saja betah duduk di warung kopi. Bahkan saking kerasnya hati sebagian orang, di beberapa masjid kita lihat sendiri terkadang shalat lagi dilaksanakan, dia cuma numpang Istirahat di masjid itu, duduknya bukan sekedar di halaman, di dalam masjid, di lantai masjid, sekalian bawa liburan anak istrinya ke pinggir laut, sholat jamaah lagi dilaksanakan, dia laki-laki. Kalau musafir kita bisa berbaik sangka, tapi kita tahu kalau ini bukan musafir, memang penduduk setempat.

Ditranskrip oleh Tim Syiar Tauhid Aceh dari kajian Ustadz Farhan Abu Furaihan

Lihat faedah lain disini:



Bantu Dakwah Sunnah di Serambi Mekkah. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khairan katsiran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *