Thu. Jun 4th, 2026

Wajib Mentaati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

4 min read
Para ulama mengatakan bahwa tidak mungkin Allah subhanahu wa ta'ala menciptakan manusia di muka bumi ini tanpa ada sebuah tujuan. Allah berfirman dalam Alquran,

Para ulama mengatakan bahwa tidak mungkin Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan manusia di muka bumi ini tanpa ada sebuah tujuan. Allah berfirman dalam Alquran,

أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى

“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS. al-Qiyamah [75]: 36)

Allah azza wa jalla juga menyebutkan pada ayat yang lain,

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُون

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. al-Mu’minun [23]: 115)

Allah ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ٠ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ ٠ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (Adz-Dzariyat [51]: 56-58)

Kalimat “يَعْبُدُونِ” atau “agar mereka beribadah kepadaku”, ditafsirkan oleh salah seorang sahabat yang mulia, bernama Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib dengan “agar mereka mentauhidkan Aku.”

Tujuan Allah menciptakan manusia di muka bumi ini adalah untuk beribadah. Namun ini tidak berarti bahwa Allah membutuhkan hamba-hamba-Nya. Justru, hamba-hamba-Nya yang butuh kepada Allah. Allah subhanahu wa ta’ala mengatakan,

مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ

“Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.” (Adz-Dzariyat [51]: 57)

Allah ta’ala berfirman dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah,

يَا عِبَادِيْ ! لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوْا عَلَـى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ ؛ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِيْ شَيْئًا
.
“Wahai hamba-Ku! Seandainya orang pertama dan terakhir dari kalian, manusia dan jin dari kalian, semua seperti hati salah seorang dari kalian yang paling jahat, maka semuanya itu tidak akan mengurangi sedikit pun dari kerajaan-Ku.”

Jadi untuk apa ibadah yang kita lakukan? Jawabannya adalah sebagaimana yang Allah lanjutkan di dalam hadits qudsi tersebut,

يَا عِبَادِيْ ! إِنَّـمَـا هِيَ أَعْمَـالُكُمْ أُحْصِيْهَا لَكُمْ ، ثُمَّ أُوَفِّيْكُمْ إِيَّاهَا

“Wahai hamba-Ku! Sesungguhnya itu semua adalah amal-amal kalian yang Aku tulis untuk kalian, kemudian Aku menyempurnakannya untuk kalian.”

Kita beramal dan beribadah, semuanya untuk kita, dicatat dan kemudian Allah akan balas nanti di yaumul qiyamah. Sesungguhnya Allah telah menciptakan kita, telah memberi kepada kita rezeki, dan tidak akan membiarkan kita begitu saja setelah diciptakan. Bahkan Allah telah mengutus kepada kita seorang Rasul, yaitu Nabi kita yang mulia, Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam.

Barangsiapa taat kepada Rasulullah, ia akan masuk ke dalam surga, dan barangsiapa bermaksiat kepada Rasulullah, maka ia akan masuk ke dalam neraka. Allah berfirman di dalam al-Qur’anul Karim,

إِنَّا أَرْسَلْنَا إِلَيْكُمْ رَسُولًا شَاهِدًا عَلَيْكُمْ كَمَا أَرْسَلْنَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ رَسُولًا ٠ فَعَصَىٰ فِرْعَوْنُ الرَّسُولَ فَأَخَذْنَاهُ أَخْذًا وَبِيلًا

“Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kamu (hai orang kafir Mekkah) seorang Rasul, yang menjadi saksi terhadapmu, sebagaimana Kami telah mengutus (dahulu) seorang Rasul kepada Fir’aun. Maka Fir’aun mendurhakai Rasul itu, lalu Kami siksa dia dengan siksaan yang berat.” (QS. al-Muzzammil [73]: 15-16)

Dijelaskan oleh para ulama ahli tafsir bahwa ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa Allah telah mengutus kepada kita seorang Rasul, yaitu Nabi Muhammad yang tujuannya adalah untuk ditaati sebagaimana Allah telah mengutus Musa kepada Fir’aun yang tujuannya adalah untuk ditaati. Namun, Fir’aun bermaksiat kepada Musa. Akhirnya Allah mengazabnya. Maka sama juga dengan kita, kalau kita bermaksiat kepada Rasulullah, maka kita juga akan diazab oleh Allah.

Ada sebuah hadis yang diriwayatkan dari al-Imam Bukhari rahimahullahu ta’ala di dalam kitab al-I’tisham bil Kitabi was Sunnah, kata Rasulullah,

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

“Seluruh umatku akan masuk Surga, kecuali yang enggan!” Para sahabat bertanya, ‘Wahai, Rasulullah! Siapakah yang enggan?’ Beliau menjawab, ‘Siapa saja mentaatiku dia masuk Surga, dan siapa saja bermaksiat kepadaku, maka dia benar-benar enggan (masuk Surga)’.” (HR Bukhari No. 7280 dari Abu Hurairah)

Ada empat hal yang harus dijalani sebagai konsekuensi kita sebagai umat Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam,

1. Mentaati apa yang diperintahkan oleh Rasulullah.

2. Membenarkan semua berita yang dibawa oleh Nabi selama riwayatnya shahih. Misalnya Nabi mengabarkan kepada kita bahwa di akhir zaman nanti akan keluar Imam Mahdi atau akan turun Isa bin Maryam, meskipun ini adalah berita-berita yang gaib, namun Nabi memberitakan kepada kita, dan hadis tentang hal itu disebutkan oleh al-Imam Bukhari dan al-Imam Muslim di dalam kitab shahih keduanya. Hadisnya shahih, maka wajib bagi kita untuk membenarkan.

3. Menjauhi segala sesuatu yang dilarang oleh Rasulullah. Terkadang kita bermudah-mudahan dalam hal ini. Misalnya Rasulullah melarang dari perbuatan riba tetapi terkadang masih banyak yang bermudah-mudahan dengan hal yang seperti ini.

4. Tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan syari’at dan tuntunan Rasulullah.

Sebagian para ulama yang lainnya menambah poin yang kelima, yaitu tidak boleh mengedepankan pendapat seorang pun di hadapan pendapat Rasulullah. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Hujurat [49]: 1)

 

(Disarikan dari kajian Ustadz Tanthawi Abu Muhammad)


Lihat faedah ilmiah lainnya:

Bantu Dakwah Melalui Radio Syiar Tauhid Aceh

Donasi: BNI Syariah (Kode 009)
No. Rekening 49.71.80.00.04
(An. Yayasan Syiar Tauhid Banda Aceh)
Konfirmasi: 082360005322

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *