Sat. Oct 19th, 2019

[Khutbah Jum’at] Berpegang Teguh Pada Syariat Nabi

8 min read
Tidak ada kenikmatan yang lebih indah yang Allah berikan kepada kita sebagai hamba-Nya daripada kenikmatan iman dan Islam, untuk menjadikan Islam sebagai agama, dengan itu seseorang memiliki kunci untuk memasuki surganya Allah.

Tidak ada kenikmatan yang lebih indah yang Allah berikan kepada kita sebagai hamba-Nya daripada kenikmatan iman dan Islam, untuk menjadikan Islam sebagai agama, dengan itu seseorang memiliki kunci untuk memasuki surganya Allah.

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. ‘Ali Imran [3] : 85)

Setelah kenikmatan iman dan Islam, kenikmatan yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya yang Allah cintai adalah kenikmatan untuk berpegang teguh dengan sunnah Nabi ﷺ.

Kita berada di dalam sebuah zaman yang telah diberitakan oleh Nabi ﷺ jauh-jauh hari, sebuah zaman yang penuh dengan perbedaan pendapat, sebuah zaman yang sarat dengan perselisihan. Nabi ﷺ bersabda :

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَ فًا كَثِيْرًا

“Sesungguhnya, barangsiapa yang berumur panjang di antara kalian niscaya akan melihat perselisihan yang banyak.”

Ini adalah pemberitaan dari Nabi ﷺ yang telah terjadi di tengah-tengah kaum muslimin. Dalam setiap daerah, dalam setiap zaman dan masa, ada saja perbedaan-perbedaan pendapat, ada saja pertikaian, perselisihan, bahkan di dalam tata cara beribadah kepada Allah ﷻ memiliki versi yang berbeda-beda. Ini adalah sebuah penyakit yang telah diceritakan oleh Nabi ﷺ akan terjadi kepada umat Islam ini. Namun, kita semua mengerti dan memahami dengan benar bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah seorang Nabi yang penuh dengan kasih sayang kepada umatnya. Sebagaimana Allah ﷻ berfirman :

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubah [9] : 128)

Nabi ﷺ setelah menyebutkan adanya penyakit tersebut, perbedaan-perbedaan, perselisihan-perselisihan, beliau meninggalkan kepada kita obat agar kita menggunakannya dalam melawan virus dan penyakit tersebut. Nabi ﷺ memberikan obat, resep kepada kita semuanya. Nabi ﷺ bersabda setelahnya :

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اْلمَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِي، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Maka wajib bagi kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para Khulafa’ur Rasyidun –orang-orang yang mendapat petunjuk- sepeninggalku. Gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham kalian.”

Nabi ﷺ memberikan kepada kita resep agar kita selamat dari perselisihan dan perbedaan pendapat. Resepnya adalah kita berpegang teguh dengan sunnah Nabi ﷺ, kita mengambil apa yang telah diambil oleh para sahabat Nabi ﷺ. Lalu kita menjadikan itu semua sebagai kekuatan dasar kita dalam beragama. Kita gigit dengan gigi geraham maknanya adalah kita tanam dalam-dalam sebagai pondasi yang kokoh di dalam beragama di dalam syariat Islam ini.

Seorang yang dia menjadikan sunnah Nabi ﷺ sebagai kaidah dasar dalam beribadah, dia tidak akan tersesat dan dia akan selamat dari sekian banyak perselisihan dan pertikaian.

Di dalam hadits yang lain Nabi ﷺ bersabda :

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

“Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (Hadits Shahih Lighairihi, H.R. Malik; al-Hakim, al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Dishahihkan oleh Syaikh Salim al-Hilali di dalam At Ta’zhim wal Minnah fil Intisharis Sunnah, hlm. 12-13).

Apa yang telah diwasiatkan atau diresepkan oleh Nabi ﷺ sangat sama dan persis dengan apa yang telah diwasiatkan oleh Allah ﷻ. Dalam sebuah ayat Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’ [4] : 59)

Lalu Rasulullah ﷺ tidak hanya memberikan resep kepada kita, tetapi Nabi ﷺ memberikan arahan kepada kita agar kita tidak terjatuh ke dalam penyakit tersebut. Nabi ﷺ memberikan kepada kita pantangan-pantangan yang harus kita hindari agar kita sehat agamanya. Nabi ﷺ mengatakan :

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Dan hati-hatilah kalian, jangan sekali-kali mengada-adakan perkara-perkara baru dalam agama, karena sesungguhnya setiap bid’ah adalah sesat”. (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)

Di dalam riwayat yang lain, Nabi ﷺ menyatakan :

وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

“Setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di neraka” (HR. An Nasa’i no. 1578, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan An Nasa’i)

Mungkin kalau kita lihat dan kita dengar sesaat, ini terlihat ekstrim, berlebihan, mungkin akan ada orang yang beranggapan ini terlalu keras, atau ini terlalu kasar, tetapi yang perlu pertama kali kita pahami bahwa ini adalah sabda Nabi ﷺ, ini adalah sabda seorang manusia yang ucapannya kata Allah :

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ ٠ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm [53] : 3-4)

Ini adalah sabda seorang manusia yang ketika ada seorang sahabat menulis ucapannya, dikatakan oleh orang lain, “Kenapa engkau menulis ucapan dia, dia juga manusia yang bisa marah dan bisa ridha?” Dia berhenti menulis, maka Nabi ﷺ mengatakan kepada orang itu :

اكْتُبْ, فَوَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ مَا يَخْرُجُ مِنْهُ إِلاَّ حَقٌّ

“Tulislah, Demi Dzat Yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah keluar darinya (mulut Nabi) kecuali al-Haq (sesuatu yang jujur dan benar).” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Maka, yang harus kita pahami di sini adalah apa yang disabdakan oleh Nabi ﷺ adalah sebuah kebenaran.

Benar, segala sesuatu yang dibuat-buat dalam perkara agama dinyatakan oleh Nabi ﷺ dengan nama bid’ah, dan segala yang dinamakan dengan bid’ah itu semua adalah dhalalah (sesat).

Kita menyadari dan kita menyaksikan fenomena yang ada di masyarakat kita, menjamurnya berbagai model amalan-amalan ibadah yang tidak ada tuntunannya dari Nabi ﷺ. Ini adalah sebab yang menjadikan bermunculnya perselisihan yang beraneka ragam. Seandainya manusia semuanya menjadikan Al-Qur’anul Karim dan Sunnah Nabi ﷺ sebagai satu-satunya dasar dalam beribaah, pasti mereka tidak akan berselisih.

وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ ٱللَّهِ لَوَجَدُوا۟ فِيهِ ٱخْتِلَٰفًا كَثِيرًا

“Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An-Nisa [4] : 82)

Maka menjadi kewajiban seorang yang cinta kepada Nabi ﷺ untuk mempertahankan eksistensi dari syariat Nabi ﷺ, kemurnian dari apa yang telah dipertahankan oleh para sahabat Rasulullah ﷺ. Kita ingin umat Islam jangan latah, kita ingin umat Nabi ﷺ jangan gampang didikte oleh orang yang tidak menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai kaidah dasar dalam beragama. Tanyakan kepada orang yang akan mendikte kita, “Adakah ayat yang dijadikan sebagai sandaran? Adakah hadits yang kau jadikan sebagai sandaran? Kalau ada maka kami mendengar dan kami taat. Kalau tidak ada maka kami katakan :

وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ

“Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ.”

Efeknya itu berbahaya, biasnya itu sangat parah. Semakin banyak orang terjatuh ke dalam perkara bid’ah, maka semakin kecil sunnah Nabi ﷺ. Semakin merajalela amalan yang tidak ada tuntunannya dari Nabi ﷺ maka semakin kecil sunnah Nabi ﷺ. Semakin banyak orang mengamalkan sunnah, maka semakin kecil pintu kebid’ahan ini. Oleh karena itu, kita harus melawan penyakit-penyakit atau pemicu dari penyakit itu dengan kita mempelajari agama Islam ini, sehingga kita mengenal bagaimana sebenarnya petunjuk Nabi ﷺ dalam beragama. Jangan sampai kita rugi waktu, jangan sampai kita rugi harta, jangan sampai umur kita habis dalam perkara yang tidak ada dasarnya dalam syariat Rasul ﷺ.

Di bulan Rajab, kita mendengar berseliweran sekian banyak hadits-hadits yang dipalsukan atas nama Nabi ﷺ. Ada yang mengatakan doa khusus ketika memasuki bulan Rajab, mereka mengatakan kalau ini adalah sabda Nabi ﷺ,

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

“Ya Allah, berkahilah kami di bulan rajab dan sya’ban, serta perjumpakanlah kami dengan bulan ramadhan.”

Lalu mereka mengajak manusia untuk mengamalkan doa tersebut, yang mereka anggap itu adalah sabda Nabi ﷺ. Ketahuilah bahwa hadits yang disebutkan di atas adalah hadits yang telah disepakati oleh para ulama bahwa hadits itu adalah hadits yang lemah. Al-Imam an-Nawawi, al-Hafidz Ibnu Hajar al-Atsqalani, al-Imam Ibnu Rajab al-Hambali, al-Imam al-Albani rahimahullah dan sekian banyak para ulama sepakat mengatakan bahwa hadits itu lemah, dan mereka juga menyebutkan bahwa tidak ada satu pun ayat ataupun hadits yang menjelaskan kekhususan amalan-amalan tertentu di bulan Rajab.

Anjuran untuk kita bersedekah dengan sedekah yang khusus di bulan Rajab, itu tidak ada tuntunannya dari Nabi ﷺ. Anjuran untuk kita berdoa dengan doa khusus di bulan Rajab, itu tidak ada tuntunannya dari Nabi ﷺ. Anjuran untuk kita mengerjakan shalat-shalat khusus yang mereka namakan dengan nama shalat raghaib yang mereka lakukan di malam pertama dari malam Jum’at di bulan Rajab, mereka lakukan 12 rakaat antara maghrib dan ‘Isya, ini tidak ada tuntunannya dari Nabi ﷺ. Anjuran untuk bersedekah dengan sedekah khusus tidak ada tuntunannya dari Nabi ﷺ. Anjuran dari mereka untuk berpuasa dengan puasa khusus juga tidak ada tuntunannya dari Nabi ﷺ. Para ulama sepakat, baik dari ulama madzhab Hanafiyah, atau ulama madzhab Malikiyah, atau ulama madzhab Syafi’iyah, bahkan ulama madzhab Hanabilah, mereka masing-masing memberikan komentar bahwa anjuran amalan di atas tidak ada yang shahih dari Nabi ﷺ.

Ini perkara agama, bukan perkara dunia. Kalau perkara agama maka kita harus mencocokkan amalan kita dengan apa yang dilakukan oleh Nabi ﷺ. Jangan kita berdalih bahwa yang kita lakukan adalah kebaikan, jangan kita berdalih bahwa yang kita lakukan adalah amalan saleh. Karena amalan kebaikan adalah apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah ﷺ.

لَوْ كَانَ خَيرْاً لَسَبَقُوْنَا إِلَيْهِ

“Seandainya amalan tersebut baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita untuk melakukannya.”

Sekarang kita bertanya, “apakah Nabi ﷺ mengetahui kebaikan-kebaikan yang dilakukan oleh masyarakat di bulan Rajab ini? Apakah Nabi ﷺ tahu itu baik?” Seandainya mereka mengatakan, “Ini baik, Rasul tahu ini baik.” Kenapa Nabi tidak mengajarkan kepada para sahabat? Kenapa Nabi tidak melakukan kebaikan kalau itu baik? Kalau Nabi mengetahui itu baik, apakah kita tega untuk menuduh bahwa Nabi ﷺ menyembunyikan syariat? Beliau tahu ini baik tapi beliau tidak sampaikan kepada para sahabat? Seandainya mereka mengatakan Rasul tidak tahu, maka kita katakan: “Kenapa engkau menganggap lebih tahu daripada Nabi ﷺ dalam perkara agama ini?”

Oleh karena itu kita gunakan tenaga kita di dalam perkara yang ada tuntunannya dari Nabi ﷺ. Jangan salah paham dan jangan kita mengatakan, “Oh, itu melarang shalat, itu melarang sedekah, melarang puasa, melarang baca Qur’an, melarang berdzikir.” Bukan itu yang dilarang, tetapi yang dilarang adalah ketika seseorang menyelisihi tuntunan Nabi ﷺ.

Pada suatu hari, ada seseorang yang melakukan sa’i antara Safa dan Marwah, lalu dia melebihi beberapa jarak dari batas Marwah, ditegur oleh Imam Malik rahimahullahu ta’ala, “Kenapa engkau lebihkan?” Lalu ia menjawab, “Wahai Imam Malik, apakah Allah akan menyiksaku hanya karena beberapa langkah yang saya niatkan untuk ibadah?” Al-Imam Malik menjawab, “Allah tidak akan menyiksa anda dengan beberapa langkah itu, tetapi Allah akan menyiksa anda manakala engkau menyelisihi sunnah Rasul ﷺ.”

Akhir kata, mari kita renungkan bersama sebuah ayat, Allah ﷻ berfirman :

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An Nisa’ [4]: 115)

Dia jalan dengan bukan jalannya Rasul, dia menyelisihi syariatnya Rasul, dia membedai apa yang dilakukan oleh Rasul, dia merasa lebih tahu dari Rasul, lalu dia mengikuti selain jalannya para sahabat, maka ia akan dipalingkan sebagaimana ia berpaling dan akan dimasukkan dirinya ke dalam jahannam, dan itu adalah sejelek-jelek tempat.

Kita harus berlindung kepada Allah dari doanya Nabi ﷺ kepada orang yang mereka telah merubah syariatnya. Ketika itu Nabi berada di telaganya, lalu datang rombongan orang yang mereka ditolak untuk meminum telaganya Nabi, ditanya oleh Nabi, “Mereka adalah golonganku, kenapa ditolak?” Dikatakan kepada Nabi ﷺ, “Wahai Muhammad! Kamu tidak tahu apa yang mereka lakukan sepeninggalmu.” Lalu ditanya, “Apa yang mereka lakukan?” Dikatakan kepada Nabi Muhammad ﷺ :

إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

“Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan sepeninggalmu!”

Akhirnya Rasulullah ﷺ mendoakan untuk mereka dengan kejelekan. Rasulullah ﷺ mengatakan :

سُحْقًا، سُحْقًا لِمَنْ غَيَّرَ بَعْدِي

“Amat jauh (telagaku) bagi orang yang mengubah (agamaku) sepeninggalku.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu, mari kita jadikan setiap langkah kita untuk sesuai dengan sunnah Nabi ﷺ, sehingga ibadah kita diterima oleh Allah ﷻ.

Khutbah jum’at oleh: Ustadz Imam Abu Abdillah
Diringkas oleh: Tim Syiar Tauhid Aceh

 


Baca juga:

  1. Doa Berlindung dari Lilitan Utang
  2. Keikhlasan Pelajar dan Pengajar
  3. Wajib Mentaati Rasulullah
  4. Hadis-Hadis tentang Kesabaran
  5. 3 Hal yang Wajib Diketahui Manusia
  6. Sebab dan Jalan Keluar dari Musibah
  7. 3 Wasiat Rasulullah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *