Mencintai Nabi Melebihi Mencintai Diri Sendiri
3 min read
Di dalam hadis yang diriwayatkan oleh al-Imam Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya, dari sahabat Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, pada suatu hari ada seorang Badui mendatangi Rasul shallallahu alaihi wasallam, lalu berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ مَتَى السَّاعَةُ قَائِمَةٌ
“Wahai, Rasulullah! Kapan hari Kiamat terjadi?”
Rasulullah memperhatikan orang yang bertanya itu, kemudian beliau mengambil sebuah penilaian khusus. Nabi menanggapi dengan memberikan pertanyaan,
وَيْلَكَ وَمَا أَعْدَدْتَ لَهَا
”Apa yang telah engkau persiapkan untuknya?”
Orang Badui itu menjawab pertanyaan dari Nabi,
مَا أَعْدَدْتُ لَهَا إِلَّا أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
”Aku tidak memiliki persiapan, kecuali aku mencintai Allah dan RasulNya.”
Lalu kata Nabi,
إِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
”Sungguh, engkau bersama orang yang Engkau cintai.”
Hadis ini memberikan berita gembira pada seluruh sahabat Nabi karena mereka adalah orang yang paling cinta kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Tidak ada orang-orang dalam sejarah pergerakan dan perjuangan Islam dari zaman Nabi sampai saat ini dan dipastikan sampai hari kiamat yang melebihi kecintaan mereka kepada Rasul dibandingkan dengan para sahabat Rasul.
Kecintaan seorang muslim kepada Rasulullah adalah sebuah kewajiban. Tidak akan sempurna iman seseorang kecuali dengan merealisasikannya. Oleh karena itu, di dalam hadis yang datang dari sahabat Abu Hurairah dan juga dari Anas bin Malik di dalam riwayat al-Imam Bukhari dan Muslim Nabi mengatakan,
لاَيُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَلاَ
“Salah seorang di antara kalian tidak akan beriman sampai aku lebih dia cintai daripada anaknya, orang tuanya bahkan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ketika itu Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلَّا مِنْ نَفْسِي
“Wahai, Rasululah! Sungguh Engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali diriku,”
Kata Nabi,
لَا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ
“Tidak, demi Dzat yang jiwaku di tanganNya, sampai aku lebih kamu cintai dari dirimu sendiri”.
Sesaat Umar bin Khaththab terdiam, lalu beliau mengatakan,
فَإِنَّهُ الْآنَ وَاللَّهِ لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي
“Sekarang, demi Allah, sungguh Engkau lebih aku cintai dari diriku sendiri.” (HR. Bukhari)
Oleh karena itu dalam ayat al-Qur’an Allah menegaskan,
النَّبِيُّ أَوْلَىٰ بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ
“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri.” (QS. al-Ahzab [33]: 6)
Nabi adalah manusia yang wajib diprioritaskan oleh semua kalangan kaum Mukminin. Tidak ada seorang pun dari kalangan kaum Mukmin yang dibolehkan untuk memiliki seorang yang dia cintai melebihi Rasul.
Dalam ayat yang lain Allah mengatakan,
قُ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
“Katakanlah, ‘jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya’. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik’.” (QS. at-Taubah [9]: 24)
Di dalam hadis yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya, dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Nabi mengatakan,
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَمَنْ أَحَبَّ عَبْدًا لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَمَنْ يَكْرَهُ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُلْقَى فِي النَّارِ
“Tiga hal apabila ketiganya terdapat dalam diri seseorang, maka dia akan mendapatkan manisnya iman, (yaitu) menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai melebihi selain keduanya, seseorang mencintai orang lain dan dia tidak mencintainya kecuali karena Allah dan dia benci untuk kembali kepada kekafiran sebagaimana dia membenci untuk dilemparkan kedalam neraka.” (Muttafaq ‘Alaihi)
Keliru dalam Mencintai Nabi
Banyak orang yang mengklaim diri mereka cinta kepada Rasul, tetapi perbuatan bahkan keyakinannya tidak mencerminkan sama sekali kecintaannya kepada Rasul.
Begitu banyak orang yang mengaku diri mereka cinta kepada Nabi, tetapi bagian dari rukun Islam pun mereka meninggalkannya dan mereka masih belum bisa untuk mengesakan ibadah mereka untuk Allah, masih ada di antara mereka yang masih mengharapkan manfaat dan mudarat dari benda-benda yang mereka keramatkan.
Betapa banyak orang-orang yang mengkosongkan rumah-rumah Allah pada waktu-waktu salat. Ketika seorang memiliki emas, perak, begitu juga uang yang dia simpan, melebihi nisab dan sudah genap satu tahun, tetapi berat baginya untuk mengeluarkan zakat. Begitu juga dengan puasa dan haji.
Seharusnya seseorang yang mengaku cinta kepada Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, setiap gerak-geriknya disesuaikan dengan apa yang dilakukan oleh Nabi.
Nabi tidak menyuruh umatnya untuk mencontoh beliau dalam semua keadaan, dalam permasalahan dunia beliau bersabda,
أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ
“Kamu lebih mengetahui urusan duniamu.” (HR. Muslim, No. 2363)
Dalam perkara-perkara yang berkaitan dengan jibiliyyah (keseharian, adat istiadat), Nabi membiarkannya, selama tidak melanggar syariat. Apa yang dilarang oleh Nabi adalah dalam perkara ibadah. Namun sayangnya, masih banyak di antara umat Islam yang mengklaim diri mereka cinta kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, akan tetapi dengan seribu satu alasan melakukan ibadah-ibadah yang tidak ada tuntunannya dari beliau dengan penuh semangat.
(Diringkas dari kajian oleh Ustadz Imam Abu Abdillah)
Baca juga:
